Ream: pangkalan 'netral'?
Direnovasi dengan dana China, disinggahi kapal perang dari Washington sampai New Delhi. Buku tamu Pangkalan Laut Ream makin panjang. Tetapi apakah semua tamu memegang kunci yang sama?

Di pesisir Kamboja, sekitar 30 km dari Sihanoukville, berdiri sebuah pangkalan laut yang dirombak dengan dana China. Namun tamunya datang dari mana-mana: Jepang, Vietnam, Amerika Serikat, India, dan tentu saja China. Phnom Penh menyebutnya bukti keterbukaan. Para pengamat menyebutnya etalase. Artikel ini menelusuri buku tamu Ream dan pertanyaan yang belum terjawab.
Dermaga baru, dari mana dananya
Sejak 2022, Pangkalan Laut Ream dirombak dengan dana China: dermaga laut dalam sepanjang 300 meter, dok kering 5.000 ton, hingga kapasitas kapal sampai 20.000 ton. Pada April 2025, pusat pelatihan bersama China–Kamboja diresmikan di sana, langsung disusul latihan gabungan Golden Dragon-2025.

Buku tamu Ream
Daftarnya panjang. Hitungan Strat4Policy dari sumber terbuka: lima angkatan laut asing merapat di Ream, ditambah Rusia yang singgah di Pelabuhan Sihanoukville, tak jauh dari sana.
Tetapi apakah semua tamu diperlakukan sama? Hanya satu yang punya fasilitas permanen di sana: China, lewat pusat pelatihan bersama. Korvet hibahnya, sekitar 1.500 ton, kini menjadi bagian dari armada Kamboja. Jadi, siapa sebenarnya tuan rumah di Ream?

Netral atau pijakan?
Kata Phnom Penh
Konstitusi Kamboja melarang pangkalan militer asing. Hun Sen menyebut laporan pangkalan China "berita palsu", dan pihak Ream menegaskan tidak ada pangkalan China di sana.
Kata para analis
Zack Cooper (AEI) menilai aset China di Ream akan membuka akses ke Teluk Thailand dan Laut China Selatan bagian selatan. Charles Edel melihat pola investasi "komersial" yang berujung strategis.
Kami akan bekerja sama dengan semua negara di bidang keamanan, entah itu China, Jepang, atau yang lain. Kami menyambut mereka semua.
— PM Kamboja Hun Manet, April 2025, dikutip kantor berita AKP (terjemahan bebas)
Namun menyambut semua tamu tidak sama dengan memberi semua tamu kunci yang sama.
Tamu Amerika di dermaga China
Lalu, mengapa Washington tetap datang? Konteksnya penting. Pada 2019, Kamboja membatalkan rencana perbaikan fasilitas Ream yang dibangun dan didanai AS, sebuah langkah yang memicu kecurigaan Washington. Tujuh tahun kemudian, USS Cincinnati disambut di dermaga yang direnovasi dengan dana China.

Bagi Phnom Penh, kunjungan itu bukti keterbukaan. Bagi pengamat, kehadiran AS justru melegitimasi narasi "netral" yang membungkus satu-satunya kehadiran permanen di sana. Kedua tafsir bisa benar sekaligus, dan itulah yang membuat Ream menarik untuk dipantau.
Jadi, Ream netral?
Di atas kertas, ya: kapal dari Washington sampai Moskow disambut. Namun hanya China yang punya pusat pelatihan permanen dan kapal hibah di sana.
Kenapa Indonesia perlu peduli?
Ream menghadap jalur pelayaran Teluk Thailand dan ujung selatan Laut China Selatan. Model pangkalan dwiguna yang dibiayai asing bisa saja ditawarkan ke negara ASEAN lain. (Analisis Strat4Policy)
Apa yang perlu dipantau berikutnya?
Siapa yang merapat paling lama, siapa yang memakai dok kering, dan apakah kapal China kembali bertahan berbulan-bulan.
Ringkasan visual dari @strat4policy
- GlobalSecurity.org: halaman Ream Naval Base; U.S. 7th Fleet (24/1/2026); Kemhan Rusia (7/4/2026); Global Times (9/4/2026); PIB India (13/9/2026)
- Cek silang: AP (Des 2023 & Apr 2025); AKP (Apr 2025 & Jan 2026); The Diplomat (Apr 2025); Phnom Penh Post (Apr 2026)
Citra: mengandung data Copernicus Sentinel-2 (2026) yang diolah; grid ditambahkan Strat4Policy.
Foto: U.S. Navy (domain publik); trey333 (CC BY-SA 4.0, foto ilustrasi); Dinas Pers Distrik Militer Timur Rusia (CC BY 4.0), via Wikimedia Commons, diolah.


