Jakarta • Edisi Web 01 • Oktober 2026Geopolitik•Intelijen•Keamanan Global
Laut China Selatan · Perang Informasi

Perang video di Ayungin. Siapa benar?

Beijing bilang Manila minta izin. Manila bilang tak pernah. Keduanya merilis "bukti". Di Second Thomas Shoal, kamera dan klaim izin kini sama tajamnya dengan meriam air, dan pelajarannya relevan untuk Natuna Utara.

Analisis Strat4Policy25 Oktober 20264 menit bacaKategori: Asia Tenggara

Malam 24 September 2026, antara pukul 20.35 dan 23.00, kapal suplai M/V Lapu-Lapu dan tiga kapal pendamping sedang menuju BRP Sierra Madre, kapal perang tua yang sengaja dikandaskan Filipina di Ayungin (Second Thomas Shoal) sejak 1999. Sekitar 60 mil laut sebelum tiba, rombongan itu dihadang tiga kapal perang China, dua di antaranya kapal rudal kelas Houbei, serta lima kapal Penjaga Pantai China (CCG).

Demi keselamatan awak, militer Filipina (AFP) menunda misi. Keesokan harinya, Beijing menyodorkan cerita yang sama sekali berbeda. Sejak malam itu, sengketa Ayungin memasuki babak baru: pertarungan narasi yang senjatanya adalah potongan video.

Foto arsip Agustus 2023: kapal CCG menembakkan meriam air ke kapal Filipina. Philippine Coast Guard / Wikimedia Commons (domain publik), dio
Foto arsip Agustus 2023: kapal CCG menembakkan meriam air ke kapal Filipina. Philippine Coast Guard / Wikimedia Commons (domain publik), diolah.

Satu malam, dua versi

Versi Manila (AFP)

Kapal China terus memanggil lewat radio dan membayangi rombongan. Satu kapal CCG mendekat hingga sekitar 1.000 yard. Kapal perang China bahkan mengancam akan mengambil "tindakan paksa".

Versi Beijing (CCG & Global Times)

Manila melanggar komitmen karena berlayar tanpa persetujuan China. Pencegatan disebut "rasional dan terkendali", tanpa konfrontasi sengit. Global Times menyebut misi itu "ilegal".

Perbedaan dua versi ini bukan sekadar soal detail jarak atau nada radio. Inti sengketanya adalah satu kesepakatan yang isinya tidak pernah dibuka ke publik.

Kesepakatan yang tak pernah dibuka

Pada Juli 2024, Manila dan Beijing menyepakati sebuah "pengaturan sementara" untuk misi suplai ke Sierra Madre. Menurut Global Times, isinya mewajibkan setiap suplai dilaporkan dan disetujui China. Manila menyebut klaim itu tidak akurat: yang disepakati hanya pertukaran informasi, tanpa izin dan tanpa inspeksi. Sejak September, Menlu Ma. Theresa Lazaro juga menegaskan hal yang sama.

Hingga kini, naskahnya tidak pernah dipublikasikan oleh kedua pihak. Celah tafsir itulah yang kemudian diisi dengan video.

BRP Sierra Madre, 2017. Philippine Navy / Wikimedia Commons (domain publik), diolah.
BRP Sierra Madre, 2017. Philippine Navy / Wikimedia Commons (domain publik), diolah.

Satu bulan, tiga narasi

24 SepMisi suplai ke Sierra Madre ditunda setelah dihadang delapan kapal China.
25 SepGlobal Times menyebut misi itu "ilegal" karena tidak mendapat persetujuan China lebih dulu.
9–10 OktEvakuasi medis seorang awak yang terluka. PCG menuding CCG menghalangi, bermanuver berbahaya, dan memakai meriam air. Sehari kemudian Global Times merilis "video eksklusif" yang disebut membuktikan evakuasi berjalan atas izin dan di bawah pengawasan China.
21 OktSuplai akhirnya tiba. CCG mengklaim misi berjalan "dengan izin China".
22–23 OktAFP membantah. Global Times merilis video baru: kapal Filipina disebut merinci muatan hingga berat tiap barang.

Polanya konsisten. Setiap kali Manila mengeluarkan pernyataan, Beijing membalas dengan rekaman yang dipilih untuk mendukung tafsirnya atas kesepakatan 2024. Pertarungan bukan lagi soal siapa yang menguasai karang, melainkan siapa yang berhasil mendefinisikan apa yang terjadi di sana.

Kami tidak perlu meminta izin atau persetujuan kekuatan asing mana pun untuk menjalankan mandat kami.

— Laksda Roy Vincent Trinidad, juru bicara AFP untuk Laut Filipina Barat, 22 Oktober 2026 (terjemahan bebas dari "We need not seek the clearance nor the approval of any foreign power to perform our mandate.")

Mengapa soal "izin" begitu penting

Jika publik menerima bahwa suplai ke pos Filipina membutuhkan izin China, kendali de facto Beijing atas karang itu ikut diakui, tanpa satu tembakan pun. Inilah alasan Manila begitu keras menolak kata "izin", dan alasan Beijing begitu rajin mempublikasikan video yang memperlihatkan Filipina seolah tunduk pada pengawasan.

Foto arsip Februari 2024: kapal CCG 3105 di dekat Scarborough Shoal. Philippine Coast Guard / Wikimedia Commons (domain publik), diolah.
Foto arsip Februari 2024: kapal CCG 3105 di dekat Scarborough Shoal. Philippine Coast Guard / Wikimedia Commons (domain publik), diolah.
Analisis Strat4Policy

Jadi, siapa yang benar?

Belum bisa dipastikan. Kedua pihak hanya merilis potongan rekaman pilihan, dan tidak ada pemantau independen di lokasi. Yang pasti, naskah pengaturan 2024 tidak pernah dibuka.

Apa artinya bagi Indonesia?

Pola yang sama bisa diarahkan ke Natuna Utara. Pelajarannya: dokumentasikan setiap insiden, dan rilis bukti sendiri lebih dulu sebelum narasi pihak lain mengisi kekosongan. Dalam sengketa abu-abu, siapa yang pertama merilis bukti cenderung menguasai narasi. (Analisis Strat4Policy)

Sumber & catatan
  1. GlobalSecurity.org, memuat Philippine News Agency: "AFP reports Chinese interference in resupply mission in Ayungin Shoal" (25/9/2026)
  2. GlobalSecurity.org, memuat Global Times: laporan 25/9, 10/10, 21/10, dan 23/10/2026 tentang Ren'ai Jiao (Ayungin)
  3. Cek silang: Inquirer & ABS-CBN (22/10/2026); Asia News Network (23/10/2026); PNA & Reuters (Juli 2024) tentang pengaturan sementara

Foto arsip: Philippine Coast Guard dan Philippine Navy via Wikimedia Commons (domain publik), diolah. Foto bukan dari insiden September–Oktober 2026.