Taksi online, pipa data Rusia?
Satu aplikasi menguasai sekitar 60% pasar taksi Moldova. Kini pemerintahnya ingin tahu ke mana data penumpang dibawa. Berkas pengadilan, tenggat 20 hari, dan pelajaran untuk UU Pelindungan Data Pribadi kita.

Setiap kali memesan taksi online, kita menitipkan jejak: dari mana berangkat, ke mana pergi, kapan pulang. Di Moldova, pemerintah kini bertanya: di mana sebenarnya jejak itu disimpan? Pertanyaan itu ditujukan pada Yandex Go, aplikasi yang menurut RFE/RL menguasai sekitar 60% pasar taksi negara itu.
Semua bermula dari soal pajak
Investigasi Radio Free Europe/Radio Liberty (RFE/RL) yang terbit 13 Oktober 2026 bersandar pada berkas pengadilan di Moldova. Di sana tercatat sekitar US$7,8 juta pendapatan Yandex Go yang diduga mengalir langsung ke bank di Dubai dan Kazakhstan, tanpa dipajaki lebih dulu.
Namun yang kemudian membuat pemerintah bergerak adalah pertanyaan yang jauh lebih besar dari urusan pajak: apakah data warga, yang selama ini diyakini tersimpan di Belanda, justru dikirim langsung ke server di Rusia?

Dengan dominasi sebesar itu, sebagian besar perjalanan taksi di Moldova tercatat di satu platform, lengkap dengan titik jemput, tujuan, dan data pengemudinya. Maka pertanyaan berikutnya tak terelakkan: di mana semua catatan itu disimpan?
Belanda, atau Rusia?

Selama ini data pengguna Yandex di Moldova diyakini tersimpan di Belanda. Kini pemerintah menyelidiki dugaan bahwa data itu justru dikirim langsung ke server di Rusia. Kekhawatiran semacam ini sudah bertahun-tahun terdengar di Chișinău. Bedanya, kali ini pemerintah sendiri yang angkat bicara.
Kami memahami bahwa banyak warga dan pengemudi menggunakan platform ini. Karena itu, kami harus menyelidiki potensi risiko penggunaan data pribadi tanpa izin…
— Pemerintah Moldova, dikutip RFE/RL (terjemahan bebas)
Dari penolakan ke ultimatum
Bukan kecurigaan pertama
Moldova bukan negara pertama yang curiga. Pada Mei 2026, MLU BV, perusahaan grup Yandex yang berkantor pusat di Belanda, didenda US$112 juta di negeri itu karena data pelanggan dan pengemudi dari Norwegia dan Finlandia dikumpulkan dan disimpan di server Rusia. Latvia dan Estonia bahkan sudah melarang Yandex Go sejak 2022.

Dua versi, satu tanda tanya
Kata Yandex
Yandex berulang kali menyatakan data penggunanya disimpan oleh perusahaan grupnya di Eropa. Ia juga menyatakan akan memenuhi tenggat 20 hari, meski tidak merinci caranya.
Yang belum terjawab
Di pengadilan, MLU BV menyebut Ridetech telah memusnahkan data pengemudi; hakim menilai buktinya tidak cukup. Berkas perkara pun tidak menjelaskan di mana data itu disimpan.
Sampai ada jawaban, tuduhan tetaplah tuduhan.
Kenapa ini penting bagi Indonesia
Apa yang sebenarnya disimpan aplikasi transportasi?
Lebih dari sekadar alamat. Dalam kasus Belanda, data yang dipersoalkan mencakup pindaian SIM, lokasi presisi, riwayat perjalanan, foto, hingga isi percakapan.
Dan soal uangnya?
Pada Juni, parlemen Moldova membahas RUU yang mewajibkan platform taksi memproses pembayaran lewat bank dalam negeri. RUU itu tidak sampai ke pemungutan suara akhir.
Apa pelajarannya?
Indonesia sudah punya UU Pelindungan Data Pribadi (UU 27/2022) yang mengatur transfer data ke luar negeri. Kasus Moldova menunjukkan aturan semacam itu baru bermakna bila negara berani menelusuri siapa pemilik platform dan ke mana data benar-benar pergi. Data lokasi dari aplikasi transportasi adalah data strategis. (Analisis Strat4Policy)
Ringkasan visual dari @strat4policy
- GlobalSecurity.org, memuat RFE/RL: "Moldova To Probe Possible Russian Data-Harvesting After RFE/RL Investigation", Ionut Benea & Ray Furlong (20/10/2026)
- Investigasi asli RFE/RL Moldovan Service (13/10/2026), dirujuk dalam artikel di atas
Foto: Mirek237 (domain publik); Gikü (CC BY-SA 3.0); BalticServers.com (CC BY-SA 3.0, foto ilustrasi, bukan server Yandex), via Wikimedia Commons, diolah.


